my picture

my picture
yes asli buatan anak negri

Minggu, 17 Juni 2012

otonomi daerah jakarta

Otonomi daerah dapat diartikan sebagai kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

 

Jakarta Siap Laksanakan Otonomi Daerah

Kompas, 20 November 2000

Jakarta, Senin
DKI Jakarta siap melaksanakan otonomi daerah, meski miskin sumber daya alam. Banyaknya potensi lain yang dimiliki menyebabkan peluangnya jadi daerah otonom cukup besar.
Demikian dikemukakan Ketua DPRD DKI Jakarta, Edy Waluyo, pada acara peluncuran buku berjudul "Dari Sentralisasi ke Otonomi DKI Jakarta" di DPRD DKI Jakarta, Senin.

"Jakarta memiliki sumber daya manusia paling berkualitas, infrastrukturnya lebih siap dibanding daerah lain. Fasilitas lain di luar sumber daya alam cukup banyak seperti fasilitas rekreasi dan lainnya. Sudah begitu, Jakarta tetap menjadi ibukota Indonesia di mana Jakarta menjadi pusat pelayanan jasa dan perdagangan," katanya.
Hal lain yang dilihat sebagai modal adalah wajib pajak terbesar berada di Jakarta. "UU nomor 18/1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah yang menghapus berbagai pajak dan retribusi di Jakarta sejak 1998 akan segera direvisi sesuai semangat desentralisasi dan bakal berdampak pada peningkatan pendapatan Jakarta," katanya.
Otonomi daerah akan berimplikasi pada penurunan tingkat urbanisasi ke Jakarta. Menurut Eddy, jika semua orang membangun dengan potensi daerah masing-masing, minat orang ke Jakarta akan mengecil dan permasalahan Jakarta pun akan berkurang.

Ia mengatakan, dengan otonomi daerah, semua intervensi pemerintah pusat kepada Jakarta berakhir. "Titik berat otonomi pada pemerintah propinsi, namun agar efektif, dilakukan pendelegasian wewenang dari propinsi ke pemerintah kota, kecamatan dan kelurahan," katanya.

Ia berharap dengar diluncurkannya buku "Dari Sentralisasi ke Otonomi DKI Jakarta" UU nomor 22/1999 tentang Pemda, UU nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah serta UU nomor 34/1999 tentang Ibukota disosialisasikan kepada masyarakat, Pemda dan anggota dewan sendiri.

Buku yang ditulis Iskadir Chottob dan Imam Suhardjo dan diterbitkan DPRD DKI tersebut terdiri dari enam bab, antara lain, Memilih Jalan Otonomi, Otonomi Daerah dalam Sorotan, Jakarta, dari Sentralisasi ke Otonomi, Jakarta Memasuki Milenium Ketiga dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Read more »

contoh coding html ol



Nested  Ordered  list



        Planet dalam sistem tata  surya

  1. Merkurius
       

             
    1. 57.9 juta kilometer dari matahari
             
    2. tidak punya satelit
         

       
  2. venus
       

             
    1. 108 juta kilometer dari matahari
             
    2. tidak punya satelit
         

       
  3. bumi
       

             
    1. 149.6 juta kilometer dari matahari
             
    2. satu satelit = bulan
         

       
  4. mars
       

             
    1. 227.9 jutakilometer dari matahari
             
    2. 2 satelit =
             

                   
      1. phobos
                   
      2. deimos
               

         



Read more »

Jumat, 15 Juni 2012

membuat menu list pada html

membuat menu list pada html


Menu list



    Planet dari sistem tata surya


   
  • merkurius
       
  • vebus
       
  • bumi
       
  • mars
       
  • jupiter
       
  • saturnus
       
  • uranus
       
  • neptunus
       
  • pluto


  • Read more »

    coding from input data dengan html PRE


       
    form layout and design
       

    DATA PENGUNJUNG



        nama:        
        email:        
        alamat:        
                           
                          
        kota:        
        kode pos:    




    *posisi coding terpengaruh

    Read more »

    ciding button reset pada html



    reset.htm














    Read more »

    coding textarea atau komentar pada HTML



    TEXTAREA.HTM






    Read more »

    membuat halaman web dengan baris dan colom

    <html>
    <head>
    <title>Frame denga 4 dokumentitle>
    head>
    <frameset rows="*,*" cols="*,*">
    <frame scr = "Radenbayu.htm">
    <frame scr = "Raden.htm">
    <frame scr = "bayu.htm">
    <frame scr = "herlambang.htm">
    frameset>
    html>
    
    silahkan di coba

    Read more »

    Selasa, 08 Mei 2012

    KOBOI JALANAN

    Read more »

    Rabu, 02 Mei 2012

    Kebudayaan Sunda


    Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum lemah lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.












    Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

    Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

    Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

    Setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

    Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

    Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

    Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

    Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

    Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

    Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

    Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

    Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

    Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

    Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

    Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.



    Sumber : http://tamanmini.com http://adatdanbudayasunda.blogspot.com/

    Read more »

    Rabu, 25 April 2012

    CODING C++ (MENU)


    #include
    #include
    #define baris 3
    #define kolom 4

    int main() {
    int pil;
    menu:
    clrscr();
    cout<<"Selamat datang di Menu"<cout<<"1.Untuk materi Biodata"<cout<<"2.Untuk materi Pengulangan"<cout<<"3.Untuk materi Array"<cout<<"4.Untuk Keluar"<cout<<"Masukan pilihan [1,2,3,4] : ";cin>>pil;
    switch(pil) {
    case 1:
    {
    clrscr();
    char nama[25];
    char kelas[5];
    char npm[8];
    cout<<"Masukan Nama anda : ";cin>>nama;
    cout<<"Masukan Kelas anda : ";cin>>kelas;
    cout<<"Masukan NPM anda : ";cin>>npm;
    cout<<"\n";
    cout<<"Nama anda  "<cout<<"Kelas anda  "<cout<<"NPM anda  "<getch();
    goto menu;
    case 2:
    {
    clrscr();
    int i,j,k;
    cout<<"Masukan banyak Looping = ";cin>>k;
    for (i=k; i>=1; i--) {
    for (j=i; j>=1; j--) {
    cout<<"*";
    }
    cout<<"\n";
    }
    getch();
    goto menu;
    case 3:
    clrscr();
    cout<<"================== Penjumlahan Array =================\n";
    cout<<"Ket : Program ini akan menambahkan 2 buah Matriks     \n";
    cout<<"------------------------------------------------------\n";

    int a,b;
    int array1[baris][kolom];
    int array2[baris][kolom];
    int total[baris][kolom];
    cout<<"====Penjumlahan Matriks(2,3)==="<for (a=1; a<3; a++) {
    for (b=1; b<4; b++) {
    cout<<"Masukan nilai Matriks 1[baris,kolom]"<<"["<cin>>array1[a][b];
    } }
    cout<cout<for (a=1; a<3; a++) {
    for (b=1; b<4; b++) {
    cout<<"Masukan nilai Matriks 2[baris,kolom]"<<"["<cin>>array2[a][b];
    } }
    cout<cout<for (a=1; a<3; a++) {
    for (b=1; b<4; b++) {
    total[a][b]=array1 [a][b]+array2[a][b];
    clrscr();
    } }
    cout<<"Maka hasilnya adalah "<for (a=1; a<3; a++) {
    for (b=1; b<4; b++) {
    gotoxy(5,3);cout << total[1][1];
    gotoxy(6,3);cout << total[1][2];
    gotoxy(7,3);cout << total[1][3];
    gotoxy(5,4);cout << total[2][1];
    gotoxy(6,4);cout << total[2][2];
    gotoxy(7,4);cout << total[2][3];
    getch();
    }
    }
    goto menu;
    {
    case 4:
    goto exit;
    default:
    cout<<"Anda salah menginput data";
    exit:
    };
    return 0;
    } } } }

    Read more »